Menjaga Hutan dari Akar Rumput: Ketulusan Komunitas Bahorok Hijau Merawat Leuser

Seringkali, ketika kita membicarakan isu lingkungan dan krisis iklim, skala masalahnya terasa begitu besar dan di luar kendali kita. Namun, di tengah kekhawatiran global tersebut, selalu ada secercah harapan yang lahir dari gerakan organik warga setempat—mereka yang hidup berdampingan langsung dengan alam dan merasakan dampaknya setiap hari.

Kisah nyata ini berakar dari Desa Timbang Lawan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang berbatasan langsung dengan kawasan penting Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Di sana, murni dari keresahan kolektif warga tanpa menunggu instruksi atau proyek instan dari luar, terbentuklah Komunitas Bahorok Hijau (Mongabay, 2023; Estungkara, 2024).

Dari Keresahan Warga Menuju Gerakan Konservasi Mandiri

Kehadiran komunitas ini tidak lepas dari sejarah panjang pergumulan warga dengan alam. Pasca-bencana banjir bandang yang merusak daerah aliran sungai dan irigasi air, lahan padi warga tidak lagi produktif. Kondisi ini memaksa sebagian besar warga mencoba peruntungan beralih menanam kelapa sawit (Mongabay, 2023).

Namun seiring berjalan waktu, para petani menyadari bahwa mengurus tanaman sawit membutuhkan modal besar dan perawatan yang sangat intensif, sementara harga jualnya tidak pasti dan pengeluaran tidak sebanding (Kaoem Telapak, 2024). Selain itu, sawit bukan tanaman yang ramah lingkungan karena tidak mampu menahan laju air saat banjir dan membutuhkan pengolahan tanah ekstra.

Dari keresahan tersebut, pada tahun 2015, Dharma Pinem bersama beberapa warga lainnya berinisiatif mendirikan Komunitas Bahorok Hijau guna merawat dan memulihkan ekosistem sekitar secara swadaya (Mongabay, 2023).

 

Tiga Pelajaran Bermakna dari Langkah Nyata Komunitas Bahorok Hijau

Gerakan yang digagas oleh warga lokal ini memberikan banyak sudut pandang baru tentang bagaimana cara menjaga bumi secara autentik:

1. Solusi Berkelanjutan yang Menyentuh Perut dan Alam

  • Komunitas ini aktif mengajak para petani yang masih menanam sawit untuk beralih menanam pohon buah produktif seperti durian, jengkol, manggis, petai, mangga, dan duku (Mongabay, 2023).

  • Skemanya sangat membumi: komunitas membantu menyediakan bibit dan membantu perawatan, sementara petani yang diajak hanya perlu menyediakan lahan tanpa harus mengeluarkan modal (Estungkara, 2024).

  • Hasil panen buah sepenuhnya menjadi milik petani. Komunitas hanya menitipkan pesan sederhana: jika ada satwa liar seperti orangutan, monyet, tupai, atau burung yang ikut memakan buah tersebut, biarkan saja dan jangan dibunuh agar mata rantai pakan ekosistem tetap terjaga (Mongabay, 2023).

2. Melibatkan Generasi Muda dan Pendidikan Sejak Dini

  • Konservasi yang kuat diwariskan secara nyata melalui keterlibatan anak-anak muda lokal serta kerja sama dengan lembaga pendidikan lingkungan berbasis masyarakat, Nuraga Bumi Institute (Estungkara, 2024).

  • Setiap anak yang belajar di Nuraga Bumi Institute tidak dipungut iuran uang, melainkan diwajibkan membawa bibit pohon setiap bulannya untuk ditanam langsung di kawasan hutan bersama Komunitas Bahorok Hijau (Mongabay, 2023).

  • Anggota muda komunitas diajak belajar praktik konservasi dasar secara nyata, seperti cara mengukur diameter, tinggi, dan lebar pohon (Mongabay, 2023).

3. Kemandirian Lewat Ekowisata Berbasis Warga

  • Demi menjaga keberlanjutan program di tengah tantangan ekonomi (self-funding), warga menginisiasi usaha desa wisata mandiri berupa pengelolaan tempat penginapan, penyewaan vila, serta area berkemah di sekitar sungai (Estungkara, 2024).

  • Sebanyak 10% dari pendapatan usaha desa wisata tersebut dialokasikan secara transparan ke dalam kas komunitas untuk mendanai pemeliharaan pohon dan operasional kegiatan konservasi secara berkelanjutan (Mongabay, 2023).


Perubahan Dimulai dari Rumah Kita

Kisah Komunitas Bahorok Hijau membuktikan bahwa perlindungan ekosistem yang paling tangguh selalu berakar dari masyarakat yang tinggal di garis depan dan menggantungkan hidupnya pada alam. Ketika warga bergerak atas kesadaran murni tanpa menunggu instruksi, hal-hal besar dapat tercipta dari tanah tempat mereka tinggal.

Bagaimana menurut Anda? Apakah di daerah tempat tinggal Anda juga ada inisiatif serupa yang digerakkan secara swadaya oleh warga? Yuk, bagikan cerita dan pendapat Anda di kolom komentar!

 

Referensi Acuan

  1. Stefany, Y. (2023, 13 Februari). Komunitas Bahorok Hijau: Peduli Hutan Demi Masa Depan. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2023/02/13/komunitas-bahorok-hijau-peduli-hutan-demi-masa-depan/

  2. Redaksi Estungkara. (2024). Komunitas Bahorok Hijau: Kolektif Masyarakat Tanpa Batas. Estungkara.id. https://estungkara.id/komunitas-bahorok-hijau-kolektif-masyarakat-tanpa-batas/

  3. Tim Peneliti Kaoem Telapak. (2024). Di Antara Janji Kesejahteraan dan Dampak Sosial Lingkungan: Penelusuran Jurnalistik Industri Sawit. Kaoem Telapak. https://kaoemtelapak.org/…

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.