Benarkah Air Waduk Jatiluhur Akan Terkuras dengan Adanya Rencana Pembangunan Data Center di Purwakarta?

Pembangunan pusat data (data center) berskala besar di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, belakangan menjadi perhatian publik. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah AI Campus 2 (CGK4) milik BDx Data Centers, yang direncanakan memiliki kapasitas hingga 640 MW. Proyek tersebut mulai dibangun pada September 2026 dan pengembangannya direncanakan berlangsung secara bertahap selama kurang lebih tiga tahun. BDx menyebut proyek ini didukung kapasitas jaringan listrik sebesar 845 MVA dari PLN (BDx Data Centers, 2026).

Besarnya skala proyek kemudian memunculkan pertanyaan lain, yaitu bagaimana dengan kebutuhan airnya? Pertanyaan tersebut relevan karena data center membutuhkan sistem pendinginan untuk menjaga temperatur server, terlebih fasilitas yang dirancang untuk komputasi kecerdasan buatan (AI) memiliki kepadatan komputasi dan beban panas yang tinggi. Pada saat yang sama, lokasi CGK4 berada di kawasan Jatiluhur, yang memiliki keterkaitan erat dengan sistem pengelolaan sumber daya air di Jawa Barat.

Kekhawatiran mengenai penggunaan air oleh data center bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tanpa dasar. Secara global, data center memang menggunakan air secara langsung untuk sistem pendinginan dan secara tidak langsung melalui kebutuhan air dalam pembangkitan listrik. Mytton (2021) menjelaskan bahwa konsumsi air data center sangat bergantung pada teknologi yang digunakan, kondisi iklim, sumber air, serta sistem pendinginannya. Dalam sistem pendinginan tertentu yang menggunakan evaporasi, misalnya, air dapat hilang ke atmosfer dan harus digantikan secara berkala.

Namun, dari sini kita perlu berhati-hati. Tidak semua data center memiliki konsumsi air yang sama. Studi Mytton (2021) memang mencatat bahwa data center kecil berkapasitas 1 MW dengan teknologi pendinginan tradisional tertentu dapat menggunakan sekitar 25,5 juta liter air per tahun. Akan tetapi, angka tersebut tidak dapat begitu saja dikalikan dengan kapasitas 640 MW untuk memperkirakan konsumsi air CGK4. Perbedaan desain, teknologi pendinginan, kondisi lingkungan, serta sumber air dapat menghasilkan kebutuhan air yang sangat berbeda.

Dalam kasus CGK4, BDx menyatakan bahwa fasilitas tersebut dirancang untuk menangani beban komputasi AI dengan menggunakan teknologi direct-to-chip liquid cooling. Teknologi ini mengalirkan cairan pendingin secara langsung ke komponen yang menghasilkan panas tinggi pada server. Dengan demikian, karakteristik penggunaan airnya tidak dapat disamakan begitu saja dengan data center yang sepenuhnya mengandalkan sistem pendinginan evaporatif konvensional (BDx Data Centers, 2026).

Karena itu, pertanyaan mengenai apakah pembangunan data center tersebut akan “menguras Waduk Jatiluhur” sebenarnya membutuhkan informasi yang jauh lebih spesifik. Yang perlu diketahui bukan hanya kapasitas listrik data center sebesar 640 MW, tetapi juga berapa volume air yang akan digunakan, dari mana air tersebut berasal, bagaimana sistem pendinginannya bekerja, berapa banyak air yang benar-benar dikonsumsi, dan berapa banyak yang dikembalikan atau digunakan kembali dalam sistem.

Perbedaan antara water withdrawal dan water consumption juga penting dalam pembahasan ini. Water withdrawal merujuk pada jumlah air yang diambil dari suatu sumber, sedangkan water consumption merujuk pada bagian air yang tidak dikembalikan ke sumber tersebut, misalnya karena menguap. Dalam konteks pengelolaan sumber daya air, kedua angka tersebut memiliki arti yang berbeda (Mytton, 2021). Karena itu, menyebut suatu industri “menggunakan air dalam jumlah tertentu” tanpa menjelaskan apakah yang dimaksud adalah pengambilan atau konsumsi dapat menghasilkan persepsi yang keliru.

Di sisi lain, keberadaan proyek data center di kawasan Jatiluhur memang layak mendapat perhatian dari perspektif pengelolaan sumber daya air. Perum Jasa Tirta II telah melakukan koordinasi mitigasi untuk menghadapi musim kemarau 2026, dengan salah satu fokusnya adalah menjaga ketersediaan air dan mengantisipasi risiko kekeringan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan air di wilayah tersebut memang membutuhkan perencanaan dan pemantauan yang berkelanjutan (Perum Jasa Tirta II, 2026).

Kondisi Waduk Jatiluhur sendiri juga mengalami perubahan sepanjang musim. Pada akhir Agustus 2026, misalnya, tinggi muka air dilaporkan berada di sekitar 96,33 meter. Perum Jasa Tirta II pada saat itu menyatakan bahwa kondisi cadangan air masih terkendali dan diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan hingga akhir 2026. Angka tersebut tentu merupakan kondisi pada waktu tertentu dan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa perubahan muka air disebabkan oleh keberadaan data center (Sunarya, 2026).

Hal tersebut penting karena Waduk Jatiluhur bukanlah sumber air yang hanya diperuntukkan bagi satu aktivitas. Infrastruktur ini merupakan bagian dari sistem pengelolaan sumber daya air yang melayani berbagai kebutuhan. Oleh sebab itu, ketika terdapat industri baru dengan kebutuhan sumber daya yang besar, dampaknya perlu dihitung dalam konteks neraca air secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan kapasitas industri tersebut.

Dengan kata lain, membandingkan angka “640 MW” dengan kapasitas air waduk juga tidak cukup untuk menjawab persoalan. Kapasitas listrik merupakan ukuran kemampuan infrastruktur dalam menangani beban komputasi, sedangkan kebutuhan air merupakan persoalan yang berkaitan dengan desain fasilitas, sistem pendinginan, kondisi operasional, sumber air, dan tingkat penggunaan kembali air. Keduanya tidak dapat dikonversikan secara langsung.

Lalu, apakah kekhawatiran masyarakat mengenai air Jatiluhur tidak perlu diperhatikan? Justru sebaliknya. Kekhawatiran tersebut dapat menjadi alasan untuk mendorong transparansi data penggunaan air. Masyarakat perlu mengetahui apakah air untuk operasional data center berasal dari Waduk Jatiluhur secara langsung atau dari sumber lain, berapa volume pengambilannya, bagaimana izin pemanfaatan airnya, serta bagaimana pengembang memastikan kebutuhan operasional tersebut tidak mengganggu kebutuhan masyarakat dan ekosistem di sekitarnya.

Informasi tersebut menjadi semakin penting karena pembangunan data center tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan listrik dan teknologi. Infrastruktur digital juga memiliki jejak lingkungan yang perlu diperhitungkan. Mytton (2021) menekankan bahwa transparansi pengukuran konsumsi air masih menjadi persoalan dalam industri data center secara global. Karena itu, perkembangan industri digital seharusnya berjalan bersamaan dengan peningkatan transparansi dan efisiensi penggunaan sumber daya.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur AI juga merupakan bagian dari perkembangan ekonomi digital. BDx menyebut CGK4 sebagai fasilitas yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan komputasi AI dan hyperscale deployment di Indonesia. Dengan kapasitas yang direncanakan mencapai 640 MW, proyek ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi berskala besar terus berkembang (BDx Data Centers, 2026).

Karena itu, diskusinya seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “data center atau Waduk Jatiluhur?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana pembangunan infrastruktur digital berskala besar dapat berjalan tanpa mengorbankan keberlanjutan sumber daya air?

Sampai informasi publik yang tersedia saat ini, belum terdapat dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa pembangunan CGK4 akan membuat air Waduk Jatiluhur terkuras. Yang dapat dikatakan adalah bahwa proyek tersebut memang berskala besar dan penggunaan airnya perlu diperhitungkan secara serius. Untuk menyimpulkan dampaknya terhadap Waduk Jatiluhur, publik membutuhkan data mengenai sumber air, volume pengambilan, konsumsi aktual, teknologi pendinginan, serta dampaknya terhadap neraca air kawasan.

Maka, perkembangan teknologi dan keberlanjutan lingkungan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Data center dapat menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi digital, tetapi pertumbuhan tersebut perlu berjalan dengan tata kelola sumber daya air yang transparan, terukur, dan berkelanjutan.

Sebab, kalau kita ingin terus #BisaTumbuh, bukan hanya teknologinya yang harus tumbuh. Air yang menopang kehidupan masyarakat juga harus tetap terjaga.

 

Daftar Referensi

BDx Data Centers. (2026, September 22). BDx breaks ground on 640MW AI data center in West Java, backed by 845MVA of secured grid power. BDx Data Centers

BDx Data Centers. (2026). CGK4 — AI Campus, Jatiluhur. CGK4 — AI Campus, Jatiluhur

Mytton, D. (2021). Data centre water consumption. npj Clean Water, 4, Article 11. https://doi.org/10.1038/s41545-021-00101-w

Perum Jasa Tirta II. (2026, April 29). Mitigasi menghadapi musim kemarau tahun 2026. Perum Jasa Tirta II

Sunarya, R. (2026, September 1). Meski menyusut, kondisi air di Waduk Jatiluhur masih aman. Media Indonesia. Media Indonesia

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

0

Your Cart Is Empty

✖

No products in the cart.