Socialwellbeing.id sukses menyelenggarakan Growpreneur Webinar Series #1 pada Sabtu, 11 April 2026, dengan tema “Pelan-Pelan Naik Kelas: Dari Tengkulak ke Punya Pembeli Sendiri”. Webinar ini menjadi pembuka dari rangkaian Growpreneur Webinar Series yang bertujuan menghadirkan ruang belajar, diskusi, dan kolaborasi bagi pelaku pertanian, generasi muda, komunitas, hingga pemangku kepentingan yang peduli terhadap masa depan pertanian Indonesia.
Kegiatan dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari petani, mahasiswa, pegiat sosial, hingga individu yang tertarik pada isu kewirausahaan dan transformasi digital di sektor pertanian. Webinar ini berfokus pada tantangan pemasaran hasil pertanian yang masih dihadapi petani Indonesia, sekaligus membahas peluang pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses pasar secara lebih mandiri.
Acara dibuka oleh Aprilia C. P. Putri dari Socialwellbeing.id sebagai moderator yang memperkenalkan visi organisasi dalam mendorong penguatan sektor pertanian melalui pendekatan teknologi digital dan kolaborasi lintas sektor. Dalam sambutannya, Aprilia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem pertanian yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga memperhatikan aspek pemasaran, distribusi, dan keberlanjutan ekonomi petani.
Webinar kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Founder Socialwellbeing.id, Zaki Zamzami. Dalam presentasinya, Zaki menjelaskan berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi petani Indonesia, terutama dalam proses pemasaran hasil panen. Ia menyoroti bagaimana rantai distribusi yang panjang sering kali menyebabkan harga jual di tingkat petani menjadi rendah, sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi.
Menurut Zaki, banyak petani masih bergantung pada tengkulak atau perantara karena keterbatasan akses pasar, kebutuhan penjualan cepat, serta minimnya informasi mengenai harga dan permintaan pasar. Kondisi tersebut membuat posisi tawar petani menjadi lemah dan menyulitkan mereka untuk memperoleh keuntungan yang lebih adil.
Dalam pemaparannya, Zaki juga menjelaskan kondisi ekosistem pertanian Indonesia yang masih didominasi oleh petani kecil dengan kepemilikan lahan terbatas. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar petani memiliki lahan di bawah satu hektar, sehingga kapasitas produksi dan kemampuan mereka untuk mengakses pasar yang lebih luas masih sangat terbatas. Selain itu, petani kecil juga menghadapi tantangan lain seperti fluktuasi harga, kualitas produksi yang belum konsisten, keterbatasan infrastruktur, hingga rendahnya akses terhadap teknologi dan informasi pasar.
Zaki menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian tidak dapat dilakukan hanya dengan memutus rantai distribusi atau menggantikan peran tengkulak semata. Menurutnya, solusi yang lebih berkelanjutan adalah menciptakan lebih banyak alternatif pasar bagi petani, memperkuat kapasitas mereka dalam pemasaran, serta membangun sistem yang memungkinkan petani memiliki akses langsung kepada konsumen maupun pembeli potensial lainnya.
Melalui webinar ini, peserta diajak memahami pentingnya transformasi pertanian modern, termasuk pemanfaatan platform digital dan media sosial sebagai sarana pemasaran produk pertanian. Zaki menjelaskan bahwa perkembangan platform digital seperti TikTok, marketplace, dan media sosial lainnya membuka peluang baru bagi petani untuk memperkenalkan produk mereka secara langsung kepada konsumen tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi konvensional.
Selain membahas pemasaran digital, diskusi juga menyoroti pentingnya inovasi dan diversifikasi produk pertanian agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. Peserta diajak memahami bahwa perubahan perilaku konsumen saat ini membuka peluang bagi produk pertanian olahan, produk organik, maupun produk dengan branding yang lebih kuat. Oleh karena itu, petani perlu mulai memahami tren pasar, melakukan eksperimen pemasaran, serta membangun kemitraan strategis dengan berbagai pihak.
Sesi webinar berlangsung secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab antara narasumber dan peserta. Berbagai isu turut dibahas, mulai dari tantangan mengubah pola pikir petani terhadap teknologi digital, kesenjangan akses internet di wilayah pedesaan, hingga pentingnya peran komunitas dan koperasi dalam mendukung penguatan ekonomi petani.
Peserta juga berbagi pengalaman mengenai kondisi pertanian di daerah masing-masing, termasuk persoalan harga hasil panen, distribusi produk, dan tantangan regenerasi petani muda. Dalam diskusi tersebut, muncul kesepahaman bahwa transformasi pertanian membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas, startup, akademisi, dan masyarakat luas.
Sebagai tindak lanjut dari webinar ini, peserta diajak bergabung dalam komunitas Tani Connect sebagai ruang belajar dan berbagi untuk mendukung pengembangan pertanian yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Melalui komunitas tersebut, peserta diharapkan dapat terus bertukar informasi, memperluas jaringan, serta mengembangkan berbagai inisiatif kolaboratif di bidang pertanian.
Melalui Growpreneur Webinar Series ini, Socialwellbeing.id berharap semakin banyak generasi muda dan pelaku pertanian yang terdorong untuk membangun ekosistem pertanian Indonesia yang lebih mandiri, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Webinar ini juga menjadi langkah awal untuk membuka lebih banyak ruang diskusi mengenai kewirausahaan pertanian, transformasi digital, dan penguatan kapasitas petani di Indonesia.



